PFN

OUR JOURNEY

OUR JOURNEY

Perusahaan Umum Produksi Film Negara (Perum PFN) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinasionalisasi pada awal kemerdekaan Republik Indonesia. Tepatnya, Perum PFN berdiri, 6 Oktober 1945.

Perum PFN adalah saksi yang ikut mendokumentasikan peristiwa-peristiwa sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia, bersama Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan Radio Republik Indonesia (RRI). RRI melalui siaran audio, TVRI melalui siaran audiovisual dan PFN mengangkatnya dalam cerita film.

Sejak menjadi BUMN, ratusan judul film telah diproduksi oleh Perum PFN. Beberapa di antaranya bisa disebutkan di sini.

1950: Setelah Indonesia Merdeka dengan PFN memproduksi Film Antara Bumi dan Langit, Inspektur Rachman (1950) dan Untuk Sang Merah-Putih (1950)

Tahun 1950-an adalah masa di mana Perum PFN paling produktif memproduksi film, selain tahun 1980-an. Selain tiga film tadi, masih ada 21 film lainnya. Di antaranya adalah Rakjat Memilih (1951), Sekuntum Bunga Ditepi Danau (1952), Belenggu Masjarakat (1953), Merapi (1954), Peristiwa Didanau Toba (1955), Rajuan Alam (1956), Lajang-Lajangku Putus (1958) dan Kantjil Mentjuri Mentimun (1959).

1963: Memproduksi Film Daun Emas

1979: Sinila (Peristiwa Gunung Dieng) (1979)

Setelah tahun 1950-an, pada 1980-an, PFN juga cukup produktif dalam membuat film. Banyak di antaranya sukses di pasaran dan bahkan ceritanya masih sangat menarik untuk saat ini. Di antaranya adalah Serangan Fajar (1981), Kereta Api Terakhir (1981), Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1982).

1981-1993: Perum PFN memproduksi serial film anak-anak, Si Unyil. Ini adalah film seri boneka yang menceritakan tentang seorang anak Sekolah Dasar (SD). Si Unyil adalah salah satu perwakilan budaya popular dalam film Indonesia. Saat ini boneka-boneka Si Unyil telah menjadi koleksi Museum Wayang, Jakarta.

1983: Selain si Unyil, Perum PFN juga memproduksi Si Huma. Si Huma adalah film animasi pertama di Indonesia yang diproduksi tahun 1970-an, tetapi baru ditayangkan di TVRI tahun 1980. Si Huma adalah cerita seorang anak dari kampung yang berusia 11 tahun berkenalan dengan Windi, seorang anak dengan latar belakang kehidupan kota modern.

1985: PFN memproduksi Film dan Peristiwa dan setahun kemudian memproduksi Film Penumpasan Sisa-sisa PKI Blitar Selatan (Operasi Trisula).

1992: PPFN memproduksi dua film yakni Surat untuk Bidadari dan Pelangi di Nusa Laut.

2019: Perum PFN memproduksi Film Kuambil Lagi Hatiku.

Saat ini, Perum PFN sedang menjalani transformasi model bisnis agar lebih adaptif dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Perum PFN tidak lagi menjadi rumah produksi film, tetapi hendak menjadi lembaga pembiayaan pembuatan film dan konten.

PFN hendak menjadi penjual Indonesia Property Right (IPR) ke pasar global. Tidak dalam posisi bersaing rumah produksi swasta dalam memproduksi film. Sebaliknya menjadi katalisator agar industri film dan konten berkembang di Indonesia.