Manajemen

Manajemen

Ismail Cawidu

Ketua Dewan Pengawas

Ismail Cawidu ditunjuk pertama kali sebagai Ketua Dewan Pengawas Perusahaan Umum (Perum) Produksi Film Negara berdasarkan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor SK-313/MBU/2013 tanggal 22 Juli 2013 jo SK-84/MBU/06/2015, tanggal 4 Juni 2015 dan ditunjuk kembali sebagai Ketua Dewan Pengawas Perusahaan Umum (Perum) Produksi Film Negara berdasarkan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor SK-237/MBU/09/2018, tanggal 10 September 2018 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Ketua Dewan Pengawas Perusahaan Umum (Perum) Produksi Film Negara.

Ismail Cawidu telah berkarir di bidang komunikasi dan informasi lebih dari 30 tahun. Selama berkarir di bidang komunikasi dan informasi, Ismail Cawidu pernah menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik serta sebagai Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Saat ini, Ismail Cawidu juga masih aktif mengajar dan menjadi dosen di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Muslim, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Mutiara Sarumpaet Sani

Anggota Dewan Pengawas

Mutiara Sarumpaet Sani ditunjuk sebagai Anggota Dewan Pengawas Perusahaan Umum (Perum) Produksi Film Negara berdasarkan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor SK-84/MBU/06/2015 tanggal 4 Juni 2015 tentang Pengalihan Tugas dan Pengangkatan Anggota Dewan Pengawas Perusahaan Umum (Perum) Produksi Film Negara.

Mutiara Sarumpaet Sani adalah pendiri studio Pelakon pada tahun 1984. Keterlibatan Mutiara Sarumpaet Sani di dalam dunia teater dilakoninya sejak muda di bawah asuhan Sutopo HS dan bergabung dengan teater popular yang dipimpin oleh Teguh Karya. Mutiara Sarumpaet Sani dipercaya untuk mengatur program di saluran TVRI bernama Apresiasi Seni Budaya dan merupakan pemeran di berbagai judul film seperti Mahkamah, Gersang, Gerhana Terpanjang, Sebuah Ruang Yang Bersedih dan Terang, Antara Hari Kemarin dan Esok, Istri Pilihan, Yang Hitam Yang Putih, Apa Yang Kau Cari Adinda, Persinggahan Terakhir, Orang-orang Kerasukan, Monumen, Arus Bawah, Sang Ayah, dan Husni Thamrin.

Mohamad Abduh

Direktur Utama

Mohamad Abduh menjabat sebagai Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Produksi Film Negara berdasarkan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor SK-157/MBU/07/2016, tanggal 22 Juli 2016 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan Umum (Perum) Produksi Film Negara.

Mohamad Abduh aktif sebagai praktisi film, produser, sutradara, dan penulis naskah di beberapa film cerita dan dokumenter, di antaranya adalah sebagai produser/penulis dalam “The Rainmaker” (Impian Kemarau, 2004), supervisor produksi di film dokumenter omnibus “Pertaruhan” (At Stake, 2008), “Working Girls,” 2009, produser dan direktur dalam film “Tjidurian 19,” 2009, “Atas Nama,” 2010, serta produser dalam film “K vs K (Kita Versus Korupsi),” 2011 dan “Sebelum Pagi Terulang Kembali,” 2014.

Mohamad Abduh juga banyak memfasilitasi lokakarya pembuatan film dokumenter, terutama untuk kalangan pelajar, mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, televisi, dan masyarakat umum. Mohamad Abduh pernah menjabat sebagai Direktur Program, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) masa bakti 2006 – 2009, Sekretaris Dewan Kesenian Jakarta masa bakti 2009 – 2012, Ketua Pelaksana Festival Film Indonesia 2011 serta Ketua Pengurus Koalisi Seni Indonesia periode 2012 – 2015 dan 2015 – 2017. 

Pardomuan Sihombing

Direktur Keuangan dan SDM

Pardomuan Sihombing menjabat sebagai Direktur Keuangan dan SDM Perusahaan Umum (Perum) Produksi Film Negara berdasarkan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor SK -157/MBU/07/2016, tanggal 22 Juli 2016 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan Umum (Perum) Produksi Film Negara.

Pardomuan Sihombing memiliki banyak pengalaman kerja di bidang keuangan, investasi, pasar modal, dan pengelolaan sumber daya manusia. Memulai karirnya sebagai Head of Research di beberapa perusahaan sekuritas terkemuka di Indonesia, Pardomuan Sihombing juga pernah menjabat sebagai direktur di salah satu perusahaan asset management terkemuka di pasar modal dan merupakan ketua Asosiasi Analis Pasar Investasi dan Perbankan (AAPIP).

Pardomuan Sihombing juga aktif sebagai narasumber dalam seminar dan workshop di berbagai media cetak, elektronik, dan online terkemuka di Indonesia. Selain itu, banyak karya tulis yang telah dihasilkan oleh Pardomuan Sihombing dalam bentuk analisa, kajian, artikel, dan buku untuk hal-hal yang terkait keahlian dan pengetahuannya di bidang keuangan, investasi, dan pasar modal.

Elprisdat

Direktur Komersial dan Pemasaran

Elprisdat menjabat sebagai Direktur Komersial dan Operasional Perusahaan Umum (Perum) Produksi Film Negara berdasarkan Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor SK-157/MBU/07/2016, tanggal 22 Juli 2016 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan Umum (Perum) Produksi Film Negara.

Elprisdat memiliki banyak pengalaman di bidang industri media. Elprisdat mengawali karirnya sebagai reporter di media cetak dan elektronik ternama di Indonesia. Keahlian dan pengalamannya di bidang industri media, membuatnya dipercaya sebagai Ketua Dewan Pengawas di TVRI pada tahun 2012.

Selain aktif berkarya di bidang industri media, Elprisdat juga merupakan pendiri Asosiasi Pedagang Seluruh Indonesia (APPSI) dan National Press Club Indonesia, serta pernah menjadi editor beberapa buku biografi dan banyak menghasilkan karya tulis berupa buku dan esai terkait suku Minang, Sumatera Barat. Salah satu buku yang ditulis oleh Elprisdat berjudul “Apa Siapa Sejumlah Orang Minang”.

 

Struktur Organisasi PFN

Vision & Missions

Visi, Misi, dan Tata Nilai

VISI

Menjadikan PFN sebagai perusahaan kreatif berbasis teknologi media dan film yang profesional dan terdepan.

MISI

  1. PFN menjadi perusahaan yang sehat dan mampu bersaing dalam konteks industri kreatif di Indonesia melalui kegiatan produksi, publikasi, distribusi, eksebisi, pendidikan dan pelatihan, production services, serta event organizer karya-karya kreatif berbasis teknologi film dan media.
  2. PFN menjadi perusahaan terdepan yang memberikan layanan penyediaan infrastruktur terintegrasi dalam mata rantai industri kreatif berbasis teknologi film dan media.

TATA NILAI

PFN menetapkan tata nilai perusahaan yang dapat menjadi pedoman bagi seluruh karyawan dalam melakukan aktivitasnya. Tata nilai tersebut sebagai komitmen perusahaan untuk mewujudkan visi dan misinya berdasarkan standar global dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik. Nilai-nilai PFN disebut REBORN, yang terdiri dari Revitalize and Respect, Empowerment, Be The Greatness, Organize and Ownership, Responsibility, Nimble.

R = Revitalize & Respect
Proaktif terhadap perubahan dengan melakukan pembenahan berkelanjutan dan saling menghargai.

E = Empowerment
Fasilitatif dan saling memberi dukungan terhadap perkembangan rekan kerja dan penciptaan kepuasan klien.

B = Be The Greatness
Menunjukkan determinasi diri untuk terus mengembangkan kompetensi serta profesionalitas.

O = Organize & Ownership
Terciptanya proses dan lingkungan kerja yang tertata serta memiliki rasa kepemilikan terhadap perusahaan.

R = Responsibility
Dapat mengemban dan menjalankan amanah meski tanpa pengawasan/supervisi.

N = Nimble
Bertindak efektif dan efisien.

About Us

Tentang Kami

Perum Produksi Film Negara (PFN) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang perfilman dan industri kreatif. PFN berkomitmen menjadi panutan dalam industri film nasional. PFN memahami bahwa film dan output produksi lainnya tidak hanya bermanfaat sebagai sarana hiburan, melainkan sebagai sarana edukasi dan penyebar nilai-nilai yang mendukung peradaban serta pembentukan karakter bangsa.

Seiring dengan berkembangnya media digital, saat ini PFN tidak hanya berfokus pada produksi film, namun PFN juga memperluas layanan di bidang video promosi dan animasi. Oleh karena itu, PFN kemudian meredifinisi sebagai perusahaan penyedia solusi kreatif. Hal ini menandakan bahwa PFN tidak hanya menjual jasa produksi, tetapi juga menawarkan solusi kreatif dan relevan sesuai kebutuhan klien.

History

Sejarah PFN

Sebelum bernama Perum Produksi Film Negara (PFN), perusahaan ini bernama Java Pacific Film yang didirikan oleh Albert Balink pada tahun 1934 dan berganti nama menjadi Algemeene Nederlandsch Indische Film (ANIF) pada tahun 1936. Pada masa penjajahan Jepang, ANIF diakuisisi dan berganti nama menjadi NIPPON EIGASHA (1941) yang diketuai oleh T. Ishimoto dan berfungsi sebagai alat propaganda Jepang. R.M. Soetarto menginisiasi pengambil alihan Nippon Eiga Sha dari kekuasaan Jepang dan mengganti nama perusahaan menjadi Berita Film Indonesia (BFI) pada 06 Oktober 1945, yang di kemudian hari diperingati sebagai hari lahirnya PFN. Serah terima disaksikan langsung oleh Mr. Amir Syarifudin, Menteri Penerangan saat itu dan berganti nama menjadi Perusahaan Film Negara (PFN) di tahun 1950. Perusahaan ini berjasa besar dalam pendokumentasian perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan dalam bentuk film.

PFN berganti nama menjadi Pusat Produksi Film Negara (PPFN) di tahun 1975 sesuai dengan Keputusan Menteri Penerangan Republik Indonesia No. 55B/MENPEN/1975 sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah naungan Kementerian Penerangan Republik Indonesia. Pusat Produksi Film Negara (PPFN) kemudian berganti nama menjadi Perusahaan Umum (Perum) Produksi Film Negara sesuai dengan PP No. 05 Tahun 1988 pada 07 Mei 1988 hingga saat ini. Pada 27 Januari 2014, PFN berganti identitas perusahaan (logo). PFN tercatat memiliki 46.000 lebih judul film yang terarsip di Biro Arsip Nasional. Film monumental dan fenomenal produksi PFN di antaranya adalah Si Unyil dan Pengkhianatan G 30 S/PKI.

Kuambil Lagi Hatiku – Feature Film

Kuambil Lagi Hatiku – Feature Film

Project Title

Kuambil Lagi Hatiku (Namaste Borobudur)

Partners & Sponsors

  1. TWC (PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero))
  2. Wahana Kreator Nusantara
  3. Pertamina (PT Pertamina (Persero))
  4. Pelindo III (PT Pelabuhan Indonesia 3 (Persero))
  5. Bank Mandiri (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk)
  6. Wika (PT Wijaya Karya (Persero) Tbk)
  7. Bank BTN (PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk)
  8. Jasa Raharja (PT Jasa Raharja (Persero))
  9. PGN (PT Perusahaan Gas Negara Tbk)
  10. Patra Jasa (PT Patra Jasa)
  11. Pupuk Indonesia (PT Pupuk Indonesia (Persero) )

Synopsis

Kota Agra, India, akan menjadi saksi pernikahan Sinta (Lala Karmela) dan Vikash (Sahil Shah) yang tinggal menghitung hari. Namun Sinta dikejutkan oleh ibunya, Widhi Malthora (Cut Mini), yang tiba-tiba menghilang. Sinta melakukan berbagai cara untuk mengetahui keberadaan ibunya sementara keluarga Vikash mendesak agar pernikahan segera dilaksanakan. Ternyata Widhi kembali ke kampung halamannya di Indonesia setelah menerima telpon dari Dimas (Dian Sidik), adik semata wayangnya. Widhi mendapat kabar bahwa sang ayah meninggal tiga bulan lalu. Sinta kaget bukan main. Selama ini ia mendengar dari mulut ibunya bahwa ibunya sudah tidak punya keluarga lagi di Jawa. Sinta pun nekat menyusul kepergian ibunya dengan seribu pertanyaan dan menunda pernikahannya di India. Sesampainya di Desa Borobudur, kampung halaman Widhi, betapa terkejutnya Sinta, ketika mendapati kenyataan tentang akar jati dirinya dan rahasia kelam masa lalu ibunya, ternyata tak seindah yang ia bayangkan selama ini. Kenyataan ini akan mengubah hidup Sinta selamanya.

Trailer

Screenshots