Perbanyak Narator Konten Kreatif

Perbanyak Narator Konten Kreatif

JAKARTA, (Perum PFN) – Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan konten. Keanekaragaman suku bangsa, bahasa, budaya, agama, kuliner yang tersebar di ribuan pulau adalah kekayaan bangsa dan negara Indonesia yang tak terhingga nilainya.

Namun, konten-konten itu masih perlu diolah dan dikomunikasikan dalam bahasa dunia agar bisa dikenal luas di dunia. Konten-konten yang bisa mendunia, tidak saja menguntungkan secara ekonomis tetapi juga secara karakter kebangsaan Indonesia di dunia luas. Hal itu disampaikan Gita Wirjawan, entrepreneur dan educator dalam webinar series kolaborasi Perum PFN dan PT. Telkom Indonesia melalui Indonesia Telecommunication & Media Learning Institute (ITMLI) dengan tema Investing in Digital & Creative Industry, Kamis, 16 September 2021.

“Saya percaya banget, semakin banyak orang dari Indonesia bercuap-cuap dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh dunia, itu semakin mudah untuk kita menyalurkan dan menyajikan konten-konten kreatif kita, apakah itu music ataupun film. Saya membayangkan kalau kita punya tukang cuap mencapai jutaan, apalagi lagi didukung dengan dengan produk-produk hardware yang luar biasa, software-nya mengikuti, itu luar biasa banget. Itu berkolerasi dengan narrator,” kata Menteri Perdagangan RI 2011-2014 tersebut.

Ia mencontohkan India dan Korea Selatan yang memiliki narrator yang sangat rakat dunia. Indonesia memiliki potensi luar biasa dibandingkan berbagai negara lain. Hanya saja, perlu keberanian dan kepercayaan diri untuk menggunakan bahasa yang bisa dipahami dan mudah dicerna oleh masyarakat dunia.

Judith J. Dipodiputro, Direktur Utama Perum Produksi Film Negara (Perum PFN), mengatakan PFN dengan pengalaman puluhan tahun berkecimpung di industri kreatif, telah mewarnai dan mencatatkan banyak karya-karya sinematografi.

Sebelum Covid-19 melanda dunia, UNESCO mencatat bahwa industri budaya dan kreatif menghasilkan pendapatan global tahunan sebesar US$ 2.250 miliar dan ekspor lebih dari US$ 250 miliar. Namun akibat Covid-19, angka tersebut mengalami kontraksi sebesar US$ 750 miliar. Tingkat penurunan industri budaya dan kreatif global berkisar 20%-40% dan terjadi hampir di seluruh negara di dunia.

Sektor-sektor ini menyediakan hampir 30 juta pekerjaan di seluruh dunia dan memperkerjakan lebih banyak orang berusia 15-29 tahun daripada sektor lainnya, bahkan dapat menghasilkan hingga 10% PDB di beberapa Negara.

Dalam laporan UNCTAD 13 Januari 2021, menyebutkan ekonomi kreatif akan bersinar di tahun 2021. Namun perkiraan tersebut agaknya meleset dari yang diramalkan karena terdampak pandemik Coronavirus. “Namun ide dan gagasan kreatif tidak dapat dibendung oleh situasi apa pun. Mereka akan menemukan jalan hidupnya sendiri. Bukan insan kreatif kalau dia tidak bisa berkelit dari situasi sulit,”katanya.

Ia mengatakan, ekonomi kreatif Indonesia cukup memiliki alasan untuk menjadikannya sebagai lokomotif membawa kebangkitan ekonomi dengan menggerakkan berbagai ekosistem ekonomi kreatif, khususnya industry film dan konten kreatif. Bagi Indonesia, ekonomi kreatif menyumbang 7.4% terhadap PDB Indonesia, mempekerjakan 14.3% dari tenaga kerjanya, dari kerajinan, film, game, mode hingga furnitur.

“Dengan 300 kelompok etnik 1340 suku bangsa, dan 13.000 pulau lebih, bagi bagi sineas dan produser konten Indonesia, merupakan tambang bahan baku hak kekayaan intelektual yang siap diolah menjadi asset dengan nilai yang tak terhingga,” kata Judith dalam acara itu.

 Imam Bustomi, Asisten Deputi Bidang Teknologi dan Indformasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengatakan dalam situasi sekarang dan yang akan datang, semua pihak dituntuk untuk bisa berkerja sama, berkolaborasi satu dengan yang lain. Hal itulah yang dilakukan pemerintah dengan membuat klaster BUMN berdasarkan core business masing-masing.

“Anda berhak menjadi Master, seorang Master harus menghasilkan Masterpiece.”  – Imam Bustomi. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *