RA Kartini: Mengadbdilah pada Kebajikan

RA Kartini: Mengadbdilah pada Kebajikan

JAKARTA, (Perum PFN) – “Duh, Tuhan, kadang aku ingin, hendaknya tiada satu agama di pun di atas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus persatukan semua orang, sepanjang abad-abad telah lewat menjadi biang-keladi peparangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam.” (Surat RA. Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902)

Salah satu tantangan Indonesia saat ini dan ke depan adalah masalah kekerasan (aksi teroris, intoleransi, gerakan radikal, perbedan SARA, dll.). Ada banyak alasan orang melakukan aksi kekerasan. Khusus, untuk Indonesia, yang paling marak justru kekerasan berkedok agama.

Bagaimana mungkin agama yang mengajarkan persaudaraan dan persahabatan, justru menjadi alasan untuk melakukan tindak kekerasan? Raden Adjeng (RA) Kartini, (Jepara21 April 1879 – Rembang17 September 1904) dalam suratnya  kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902, sudah mengingatkan akan kegelisahan itu.

RA Kartini, Pahlawan Nasional Indonesia, pelopor kebangkitan perempuan Indonesia, pejuang kesetaraan gender. Baginya, hidup dengan cara dan bertindak baik, dilandasi oleh kebatinan yang dalam, bersumber dari kebajikan, adalah aktualisasi agama yang sesungguhnya.

Hanya ada satu kemauan, yang boleh dan harus kita punya: kemauan untuk mengabdi kepadanya: kebajikan,” tulis RA Kartini dalam surat kepada Ny.M.C.E. Ovink Soer, Oktober 1900. Ia berharap agar orang-orang tua mengajarkan agama yang sebenar-benarnya agar agama melekat di rohoni anak-anaknya.

Dengan pengajaran agama yang sebenar-benarnya, tentu diharapkan kekerasan dengan berkedok agama bisa diredam. Kerap kali kasus-kasus kekerasan yang terjadi dengan korban anak-anak dan kaum perempuan. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *